Riwayat Para Penghulu Blitar September 24, 2009
Posted by krmkasiman in yayasan.Tags: Blitar, masjid, penghulu
4 comments
Dari catatan yang berasal dari beberapa sumber sejarah, maka dapatlah dihimpun daftar riwayat pada penghulu-penghulu atau pemimpin agama Islam yang pernah memimpin di Blitar pada waktu itu. Ternyata para penghulu ini seluruhnya adalah merupakan keturunan dari Kyai Raden Moh Kasiman.
Menurut catatan yang terhimpun, sejarah Kabupaten Blitar saat ini sebelumnya adalah merupakan peleburan dari beberapa daerah kadipaten di sekitarnya antara lain Kadipaten Srengat, Kadipaten Lodaya dan Kadipaten Blitar. Wilayah Kadipaten pada waktu itu dipimpin oleh seorang Adipati yang umumnya memperoleh sebutan atau bergelar Kanjeng Adipati.
(lagi…)
Pertemuan Reuni Keluarga KRM Kasiman November 4, 2008
Posted by krmkasiman in keluarga, yayasan.Tags: Blitar, Dawuhan, Garum, Kademangan, Kanigoro, Lodoyo, Nglegok, pengulon, reuni, Selorejo
add a comment
Pertemuan atau reuni keluarga digagas dan dilaksanakan pertama kali pada tahun 1974. Pertemuan tersebut akhirnya dilaksanakan di Pengulon yang terletak di sebelah utara masjid agung Blitar. Pertemuan-pertemuan serupa disepakati untuk dilaksanakan dua tahun sekali di tempat-tempat lain yang disepakati.
Adapun pertemuan-pertemuan yang pernah dilaksanakan selama ini adalah :
- Minggu, 20 Oktober 1974 di Pengulon Blitar
- Senin, 27 September 1976 di Pengulon Blitar
- Rabu, 6 September 1978 di Pengulon Blitar
- Rabu, 20 Agustus 1980 di Pengulon Blitar
- Minggu, 25 Juli 1982 di Kenaiban Selorejo
- Senin, 2 Juli 1984 di Kenaiban Kanigoro
- Minggu, 15 Juni 1986 di Rumah Hj. Siti Huroiroh (Abdoerachman) Dawuhan Blitar
- Sabtu, 21 Mei 1988 di Halaman Masjid Kauman Wlingi
- Minggu, 29 April 1990 di Rumah Ibu Hasyim (Halaman Masjid Talun)
- Sabtu, 11 April 1992 di Pengulon Blitar
- Sabtu, 19 Maret 1994 di Halaman masjid Kademangan Blitar
- Sabtu, 25 Pebruari 1996 di Pengulon Blitar
- Senin, 2 Pebruari 1998 di Rumah Bapak Anwar Beak Pakunden Sanan Kulon
- Minggu, 15 Januari 2000 di Rumah Bapak Moh. Soeparno Lodoyo
- Minggu, 22 Desember 2001 di Halaman Masjid Nglegok Blitar
- MInggu, 30 November 2003 di Pendopo Kabupaten Blitar
- Minggu, 6 Nopember 2005 di Halaman Masjid Darussalam Sumberdiren Garum
- Sabtu, 4 Oktober 2008 di Pengulon Blitar
- Minggu, 12 September 2010 di Pengulon Blitar
Moesrikah Oktober 29, 2008
Posted by krmkasiman in generasi 4, silsilah.Tags: Abdoerrachman, Blitar
2 comments
Moesrikah adalah putri bungsu dari pasangan Moetmainah dan Imam Redjo. Moetmainah adalah putri pasangan Abdoerrachman dan Moersidah, dimana Abdoerrachman adalah cucu KRM Kasiman. Moesrikah lahir di Blitar, 21 April 1919.
Moesrikah yang oleh keluarga kami dipanggil sebagai Eyang Blitar (karena tinggalnya di Blitar), kadang oleh orang lain juga dipanggil sebagai Eyang Dono. Mungkin ini karena dahulu Mas Moeksam (Eyang Kakung) pernah menjadi Wedono di Wlingi dan oleh sebab itu sebutan itu muncul.
Sejak tahun 1950-an keluarga Moesrikah dan Mas Moeksam tinggal di desa Dawuhan Blitar. Sebelum itu Moesrikah mengikuti tugas suami di berbagai daerah. Moesrikah pernah tinggal di Wlingi mengikuti tugas suami sebagai wedono, pernah tinggal di Loceret Nganjuk.
Moesrikah binti Imam Redjo menikah dengan Mas Moeksam Kartodiredjo pada tanggal 5 April 1936. Pasangan ini dikaruniai tiga orang putra putri yaitu Mas Tranggono, Hindiono dan Noor Alamsjah. Mas Tranggono lahir di Blitar pada bulan Januari 1937, disusul Hindiono pada bulan Mei 1939 dan Noor Alamsjah tahun 1942.
Mas Moeksam Kertodiredjo bin Marman yang lahir di Trenggalek 14 April 1912 telah wafat pada 18 Pebruari 1993 pada usia tahun 81 tahun dan dimakamkan di pemakaman umum Bendo Gerit Blitar di belakang makam Bung Karno. Sedangkan Moesrikah meninggal di Mekah saat menjalankan ibadah haji pada tahun 1996 dan dimakamkan di tanah suci Mekah. Beliau wafat pada tanggal 16 April 1997 pada usia 78 tahun.
- moesrikah
Abdoerrachman Oktober 25, 2008
Posted by krmkasiman in generasi 2, silsilah.Tags: Blitar
add a comment
Abdoerrachman adalah putra kedua Imam Moestari, cucu KRM Kasiman. Abdoerrachman menikah dengan Moersidah yang juga saudara sepupunya, putri kedua dari Chasan Sjoehada. Pasangan Abdoerrachman dan Moersidah dikaruniai 7 orang putra yaitu Maimoenah, Karsijam, Moetmainah, Moethohiroh, Moeslimah, Moedjono dan Moedatin. Dalam keluarga kami, Abdoerrachman biasa dipanggil sebagai mBah Dur.
Abdoerrachman meninggal dan dimakamkan di pemakaman umum dawuhan Blitar.
Silaturahmi-reuni keluarga ke-16 Oktober 20, 2008
Posted by krmkasiman in keluarga.Tags: Blitar, kabupaten, reuni
add a comment
Acara silaturhami dan reuni keluarga KRM Kasiman ke-16 ini berlangsung di pendopo Kabupaten Blitar. Tepatnya berlangsung pada tahun 2003.
Kebetulan bupati Blitar Imam Muhadi adalah suami Nurul Nahdiyah yang masih kerabat atau keturunan KRM Kasiman. Oleh sebab itu acara silaturahmi dan reuni keluarga KRM Kasiman tahun 2003 disepakati diselenggarakan di pendopo Kabupaten Blitar.
Acara berlangsung cukup meriah dan dihadiri oleh banyak anggota keluarga KRM Kasiman. Pertemuan berikutnya disepakati tiga tahun kemudian di Garum.
Acara ditutup dengan doa dan saling bersalaman saling memberi maaf.
Masjid Agung Blitar Oktober 19, 2008
Posted by krmkasiman in yayasan.Tags: Blitar, logo yayasan, masjid agung
8 comments
Ini adalah gambaran masjid Agung Blitar pada tahun 50-an. Tampak gambaran regol yang sudah dibongkar di bagian depan bangunan masjid dan saat ini sudah tidak ada lagi.
Regol ini terletak di bagian pintu masuk masjid. Tampak regol mempunyai empat menara kecil, masing-masing dua di sebelah kanan dan kiri bangunan. Di bagian tengah regol adalah penutup yang tampak seperti kubah. Regol ini mempunyai tiga pintu, satu pintu utama yang berukuran besar terletak di tengah serta dua pintu lain di sebelah kanan dan kiri pintu utama yang berukuran lebih kecil.
Bagian yang berwarna hitam tampak seperti segitiga adalah bagian dari atap bangunan masjid. Dahulu, menara masjid terletak di sebelah kiri bangunan masjid. Menara tersebut dibongkar dan dibangun kembali dan dipindah di sebelah kanan bangunan masjid.
Gambaran masjid Agung Blitar ini diabadikan dalam logo Yayasan KRM Kasiman, sehingga di sana masih tampak adanya regol dan menara masjid di sebelah kiri (logo KRM Kasiman dapat dilihat di halaman about).
Mas Tranggono Oktober 16, 2008
Posted by krmkasiman in generasi 5, silsilah.Tags: Abdoerrachman, Blitar, Moesrikah, silsilah
8 comments
Mas Tranggono adalah putra pertama pasangan Mas Moeksam Kartodiredjo dan Moesrikah. Beliau lahir di Blitar bulan Januari 1937. Beliau adalah cucu dari mBah Moetmainah, putri dari mBah Dur atau Abdoerrachman. Moetmainah adalah ibu dari Moesrikah, nenek Mas Tranggono.
Masa kecil beliau dilalui di kota Blitar, selanjutnya bersekolah di SMA I Kediri dan melanjutkan di Fakultas Kedokteran Hewan dan Peternakan Universitas Gadjah Mada Yogyakarta.
Beliau pernah bertugas sebagai dosen di Fakultas Kedokteran Hewan Universitas Airlangga. Namun selanjutnya berkarier sebagai pegawai negeri di Dinas Peternakan. Beliau pernah bertugas sebagai kepala Dinas Peternakan Kabupaten Bangkalan Madura sejak tahun 1975 dan Kepala Balai Karantina di wilayah Madura Barat, kemudian menjadi Kepala Dinas Peternakan di Kabupaten Banyuwangi mulai tahun 1985 dan menjadi Kepala Sub Dinas Peternakan Propinsi Jawa Timur di Surabaya sebelum mengakhiri pengabdiannya, dan kemudian kembali ke kampung halaman yaitu Blitar. Saat ini beliau tinggal di jl. Musi 3 Blitar.
Aktifitas beliau saat ini adalah menjadi anggota Dewan Legislatif Kota Blitar komisi D. Beliau juga sebagai Ketua Yayasan Kyai R Moh Kasiman Blitar. Selain itu beliau masih aktif mengelola organisasi para lanjut usia yaitu Gerontologi dan juga sebagai ketua PWRI Kota Blitar.
Mas Tranggono menikah dengan Ninoes Soedarwati pada bulan April 1964 di Wlingi Blitar dan dikaruniai putra dan putri. Putri pertama meninggal saat berusia 4 tahun. Selanjutnya dikarunia putra Nuswanto Indratmodjo pada bulan Desember 1966 dan Nusdianto Triakoso pada bulan Mei 1968. Putra selanjutnya juga meninggal karena abortus. Selanjutnya lahir Nuswandito Ananto pada bulan Nopember 1970, Nusta Arina Indrawati pada bulan Agustus 1972 dan Nustan Ario Dewanto pada bulan Desember 1974.
Semua putra-putri Mas Tranggono telah menikah dan dari putra-putri beliau, saat ini telah dikarunai 9 orang cucu.











